Kamis, 12 November 2020

Strategi Pembelajaran Terhadap Anak Penyandang Autis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

STRATEGI PEMBELAJARAN TERHADAP ANAK PENYANDANG AUTIS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Anak adalah karunia terbaik yang berasal dari Tuhan,dimana dalam diri setiap anak  melekat harkat dan martabat sebagaimana manusia yang seutuhnya. Dalam masa pertumbuhan dan perkembangan baik secara fisik maupun mental  anaksangat membutuhkan perawatan yang maksimal serta perlindungan baik secara khusus maupun secara hukum sebelum bahkan sesudah dilahirkan.

Secara antropologis, manusia merupakan mahkluk yang dibekali dengan akal budi untuk berpikir sehingga itu yang kemudian membedakan manusia dengan ciptaan yang lainnya. Dalam ilmu sosiologi manusia dikategorikan sebagai mahkluk social dimana manusia tidak dapat hidup hanya seorang diri saja melainkan  membutuhkan orang lain dalam seluruh tatanan kehidupan.

Alkitab menyatakan  bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling mulia  karena diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Namun dalam kesempurnaan itu terdapat juga perbedaan yang dapat  dilihat baik secara fisik maupun secara psikis. Perbedaan tersebut kemudian mulai nampak  ketika manusia dilahirkan dimana ada yang lahir normal dan ada juga yang lahir abnormal. Meskipun demikian anak dalam pertumbuhan dan perkembangannya harus menerima perawatan yang maksimal serta pendampingan yang cukup dari orang tua dan juga orang yang ada  disekitar.

Dalam kebutuhan akan pendidikan tidak hanya diberikan kepada orang yang yang mampu baik secara materi, fisik dan lainnya. Pendidikan adalah suatu hak bagi semua anak, sehingga setiap anak wajib yntuk memperoleh pendidikan yang layak tanpa memandang status sosial,agam,suku, ras dan latar belakang lainnya. Sama halnya dengan anak berkebutuhan khusus, meskipun memngalami gangguan mental, fisik,intelektual, serta emosinal bukan berarti mereka tidak mempunyai hak untuk mempertoleh pendidikan yang layak. Meskipun mereka managalami gangguan yang sifatnya tetap dan seumur hidup, bukan berarti mereka akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh pendidikan seperti anak yang lainnya. Seperti yang tercantum dalam Undang-Undang No.2 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam pasal 5ayat 1 “setiap warga negara memunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu” dan juga pada pasal 2 yang berbunyi “ warga Negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan sosial berhak mendapatkan pendidikan khusus.[1]

Anak autis merupakan salah  satu anak berkebutuhan khusus yang juga memiliki hak untuk memenuhi kebutuhan akan pendidikan. Anak autis adalah anak berkebutuhan khusus yang memiliki gangguan perkembangan neurobiologis yang sangat kompleks dan sifatnya permanen baik dari segi perilaku, interaksi sosial, komunikasi dan bahasa serta gangguan persepsi sensorik bahkan motorik.[2]

Pendidikan bagi anak autis memang sangatlah penting dan mereka memiliki hak untuk memperolehnya. Namun  dalam hal proses belajar tentu sangat dibutuhkan kreativitas serta strategi pembelajaran yang tepat dari seorang guru. Strategi yang tepat sangat penting dalam proses pembelajaran karena itu akan mempermudah proses pembelajaran dalam mencapai tujuan secara optimal. Tanpa  strategi yang tepat maka proses pembelajaran pun tidak akan terarah sehingga sulit untuk mencapai tujuan secara optimal.strategi pembelajaran bagi seorang guru sangatlah penting karena itu yang akan menjadi bahan acuan serta pedoman dalam bertindak secara sistematis dalam proses belajar mengajar.

Menurut Johnson, apabila seorang guru kreatif dan mampu mengajar peserta didik dari berbagai latar belakang yang ada maka dapat dipastikan guru tersebuttidak  mempunyai kesulitan dalam menjalankan seluruh kurikulum yang diisyaratkan. Menjadi seorang guru yang kreatif maka dalam proses pembelajaran guru seolah-olah tidak menemukan hambatan baik dari segi metode dan juga siswa. Adanya kreatifitas dan strategi yang tepat dari seorang guru maka itu juga akan membangkitkan semangat serta motivasi belajar pada peserta didik. [3]

                        Dikatakan bahwa setiap anak mempunyai hak yang sama untuk memenuhi kebutuhan  pendidikan, namun dalam pemenuhan akan kebutuhan tersebut khususnya dalam proses pembelajaran tentu sangat membutuhkan kreativitas dan strategi yang tepat dari seorang guru. namun apabila guru tidak menggunakan strategi yang tepat maka dapat dipastikan tujuan yang hendak dicapai tidak akan optimal.

Bertitik tolak dari permasalah tersebut maka penulis memiliki ketertarikan untuk meneliti dengan mengangkat judul Strategi Pembelajaran Terhadap Anak Autis.

B.     Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang masalah di atas maka penulis ingin mengkaji lebih dalam tentang bagaimana strategi pembelajaran yang diterapkan bagi anak autis.

 

 

 

 


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.    Strategi Pembelajaran

1.      Konsep Strategi

Dalam melakukan  proses belajar mengajar  strategi sangat penting, karena dengan adanya  strategi  itu akan memudahkan proses pembelajaran serta tujuan dapat tercapai Apabila strategi yang akan digunakan tidak jelas tentu proses pembelajaran tidak akan terarah sehingga sulit untuk mencapai tujuan pembelajaran. Strategi pembelajaran bagi seorang tenaga pendidik dapat dijadikan sebagai bahan acuan dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Bagi peserta didik strategi sangatlah menolong siswa dalam proses belajar karena dengan adanya strategi akan memudahkan pserta didik dalam memahami isi pembelajaran.  

Menurut Johnson “…apabila guru ahli mengelola dengan bakat kreatif serta memiliki kemampaun mengajar dari berbagai latar belakang maka dapat dipastikan guru tidak mempunyai kesulitan dalam menjalankan seluruh kurikulum yang diisyaratkan dari setiap mata pelajaran”.[4] Apabila seorang guru memiliki kreatifitas maka dalam melaksanakan proses pembelajaran guru seolah-olah jarang bahkan tidak akan menemukan hambatan baik itu terkait dengan metode maupun peserta didik. Maka beban materi yang harus diterima siswa dirasakan lebih menarik sehingga itu membangkitkan semangat dan motivasi belajar yang pada akhirnya menghasilkan prestasi yang baik. Dalam bukunya Strategi Pemelajaran Aktif, Hisyam Zaini mengatakan “ walaupun materi yang diberikan itu sama tetapi itu dijelaskan dan disampaikan oleh guru yang berbeda maka hasil penerimaan peserta didik pun juga berbeda.”[5]

Hal tersebut menunjukkan bahwa guru sebagai ujung tombak, dimana guru menjadi penentu dari proses pembelajaran, sehingga hasil akhir dari proses pembelajaran tersebut berada ditangan guru. Sardiman mengemukakan disini betapa pentingnya kreatifitas seorang guru. Disisi lain guru sebagai pencetus ide-ide kreatif dalam proses pembelajaran yang dapat dicontoh oleh peserta didik.

2.                 Pengertian Strategi Pembelajaran

Strategi adalah suatu  bentuk perencanaan kegiatan yang dilakukan secara cermat guna untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan  secara optimal. Secara umum strategi dapat diartikan sebagai tolak ukur dalam melakukan setiap tindakan guna untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.  Apabila dikaitkan  dengan proses pembelajaran , maka strategi dapat diartikan sebagai  suatu pola dimana kegiatan yang dilakukan olehguru dan peserta  didik itu diwujudkan lewat kegiatan belajar yang telah digariskan.[6]

Wina Sanjaya mengatakan bahwa strategi merupakan bagian terpenting karena sangat menentukan keberhasilan dalam mencapai suatu tujuan, meskipun bagian yang lainnya lengkap tetapi strategi yang diimplementasikan tidak tepat maka tujuan tidak akan tercapai secara optimal. Oleh karena itu sangat penting bagi seorang  guru  untuk memahami dengan baik peran serta fungsi strategi pembelajaran  dalam proses belajar mengajar.[7]

Dari pendapat diatas dapat disumpulkan bahwa strategi merupakan elemen  yang sangat perlu  untuk diperhatikan oleh tenaga pendidik dalam proses pembelajaran karena strategi merupakan titik tolak untuk bertindak dalam mencapai tujuan pembelajaran yang optimal.

J.R David (1976) mengemukakan bahwa  strategi pembelajaran merupakan suatu perencanaan yang berisi tentang gambaran rangkaian kegiatan yang dibuat sedemikian rupa guna untuk mencapai tujuan secara optimal.[8]

Buku yang dikarang oleh Henry Guntur Tarigan “Strategi Pengajaran dan Pembelajaran, terdapat pendapat para ahli menegenai pemgertian strategi pembelajaran,dianratanya:

a.       Menurut Kozna, secara umum strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu bentuk kegiatan yang telah ditentukan dimana kegiatan tersebut dapat menolong peserta didik dala proses belajar mengajar demi untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.

b.      Geralch dan Ely berpendapat bahwa  stategi pembelajaran merupakan  cara yang digunakan untuk menyampaikan suatu pembelajaran di dalam ruang lingkup belajar tertentu. 

c.       Dicky dan Cerey mengatakan,  strategi pembelajaran adalah  keseluruhan bagian materi serta tahapan pembelajaran yang digunakan guru untuk menolong peserta didik mencapai tujuan.

d.      Gopper menyatakan bahwa, strategi pembelajaran adalah pemilihan secara tepat berbagai bentuk  kegiatan serta sesuai dengan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.[9]

Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran merupakan suatu  cara yang dipilih secara tepat  oleh seorang pengajar dalam rangka melaksakana proses pembelajaran dimana dalam proses tersebut akan memudahkan peserta didik untuk memahami materi pembelajaran sehingga tujuan dapat dicapai secara optimal.

Strategi secara umum diartikan sebagai garis besar haluan dalam rangka bertindak guna mencapai sasaran yang telah ditentukan. Apabila dihubungkan dengan belajar maka strategi dapat kita artikan sebagai bentuk kegiatan yang dilakukan guru dan juga peserta didik dimana kegiatan yang dimaksudkan yaitu belajar mengajar untuk mencapai tujuan tertentu.

Dalam proses pembalajaran, ada empat strategi dasar antara lain:

1.      Mengenali  serta menentukan  uraian dan kualifikasi dari setiap refraksi sikap   serta kepribadian siswa sebagimana mestinya sesuai  yang diharapkan .

2.      Pemilihan bentuk strategi  belajar itu dilakukan berdasarkan aspirasi

3.      Menentukan  serta memutuskan  langkah, cara dan juga teknik pembelajaran  yang muah dan tepat sehingga dijadikan sebagai bahan acuan oleh guru dalam melaksakan proses belajar mengajar.

4.      Menentukan   standar serta norma yang dapat dijadikan sebagai pedoman oleh tenaga pengajar dalam melaksanakan  evaluasi terhadap hasil kegiatan pembelajaran yang selanjutnya dijadikan sebagai umpan balik dalam rangka menyempurnakan sistem instruksional yang bersangkutan secara keseluruhan. [10]

Strategi pembelajaran diklasifikasikan dalam tiga variabel antara lain:

·           Strategi pengorganisasian (organizational strategy) merupakan cara bagaimana untuk menata isi suatu bidang studi dimana kegiatan ini pula berkaitan dengan tindakan pemilihan dan penataan materi pembelajaran. Dimana kegiatan ini pula berkaitan dengan tindakan pemilihan materi pembelajaran, penataan isi,diagram dan sebagainya.

·           Strategi penyampaian ( delivery strategy), berarti cara yang digunakan untuk menyampaikan materi pembelajaran kepada peserta didik serta menerima dan merespon  masukan dari peserta didik

·         Strategi pengelolaan ( management strategy), berarti cara yang digunakan untuk menata bagaimana interaksi antar peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung dan juga dalam hal mendesign kembali materi pembelajaran yang kemudian disampaikan dalam proses pembelajaran serta menerima masukan dari peserta didik yang lainnya.hal ini juga berkaitan dengan jadwal pembelajaran dan hasil evaluasi dari setiap pertemuan dalam kelas untuk meningkatkan proses pemelajaran dan juga berisi motivasi bagi peserta didik.[11]

3.      Tujuan dan Manfaat Strategi Pembelajaran

Strategi pembelajaran memiliki tujuan sebagai berikut:

·      Sebagai proses pengembangan pengajaran sistematis yang digunakan secara khusus sesuai dengan teori-teori pembelajaran dan pengajaran untuk menjamin kualitasnya. Perencanaan ini akan menaganalisis kebutuhan dari proses belajar dengan alur yang sistematik untuk mencapai tujuan pembelajaran,termasuk di dalamnya melakukan evaluasi terhadap materi pelajaran dan aktivitas pengajaran.

·           Sebagai disiplin ilmu pengetahuan yang senantiasa memperhatikan hasil-hasil penelitian dan teori tentang strategi pengajaran dan implementasinya dalam pembelajaran.

·           Sebagai sains,yakni mengkreasikan secara detail spesifikasi dari pengembangan, implementasi, evaluasi, dan  pemeliharaan terhadap situasi ataupun fasilitas pembelajaran dalam lingkup unit-unit yang luas dan sempit dari materi pelajaran dengan segala tindakan kompleksitasnya.

·           Sebagai realitas,yakni ide pengajaran yang dikembangkan dengan memberikan hubungan pengajaran setiap waktu. Dalam suatu proses yang berjalan,perencana mengecek bahwa semua kegiatan telah sesuai dengan tuntutan sains serta dilaksanakan secara sistematik.

·           Sebagai teknologi, yakni suatu perencanaan yang mendorong penggunaan teknik-teknik yang dapat mengembangkan tingkah laku kognitif serta teori-teori konstruktif terhadap solusi dari problem pengajaran.

 

 

Adapun manfaat dari strategi pembelajaran yaitu:

a.         Bagi Peserta Didik

·           Peserta didik akan terbiasa dalam belajar dengan perencanaan yang telah disesuaikan berdasrkan kemampuan masing-masing peserta didik

·           Peserta didik akan memiliki pengalaman belajar yang berbeda dari temannya, walaupun mempunyai pengalaman belajar yang sama.

·           Peserta didik dapat memacu prestasi berdasarkan kecepatan belajarnya masing-masing secara optimal.

·           Peserta didik akan bersaing secara sehat guna untuk mencapai hasil belajar yang efisisen.

·           Peserta didik akan merasa puas jika psereta didik mampu mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan

b.                  Untuk tenaga pendidik

·           Pendidik mampu  menata proses pembelajaran guna untuk mencapai hasil belajar yang efektif dan efisien.

·           Pendidik mengontrol peserta didik secara teratur.

·           Pendidik mampu mengetahui bobot setiap materi yang dipelajari oleh peserta didik.

·           Pendidik dapat memberikan arahan kepada peserta didik ketika mengalami hambatan dalm proses pembelajaran.[12]

4.      Strategi Pembelajaran Anak Autis.

Anjali Sastry dan Blaise Aguire dalam bukunya tentang parenting Anak dengan Autis mengatakan bahwa strategi yang paling mendasar yang dapat dilakukan dalam mengajar anak autis yaitu strategi

a.       Strategi Applied Behavior Analysis (ABA)

Strategi Applied Behavior Analysis (ABA) merupakan strategi yang didasrkan pada “behavior modifikacation” atau “discrete trial training” dengan menggunakan urutan A-B-C. Antencedent atau  A berarti memberikan instruksi,seperti perintah dan pertanyaan.

Sebelum memberikan instruksi perhatikan bahwa anak dalam keadaan siap. Pastikan bahwa suara dan instruksi yang diberikan kepada anak jelas. Setelah memberikan instruksi berikan waktu kepada anak 3-5 detik untuk memberi respon. Sebagai permulaan gunakan satu kata perintah. Behavior atau B merupakan respon anak. Instruksi yang diberikan kepada anak kiranya mendaoat respon yang jelas dari anak dalam waktu 3-5 detik. Consequence atau C merupakan tindakan yang harus dilakukan setelah anak memberikan respon terhadap instruksi. Konsekuensi yang diberikan kepada anak itu berupa pendorong atau “Tidak”.[13] Sebagai contoh: Ketika anak memberikan respon yang benar;A- Bila instruksi yang diberikan yaitu “tepuk tangan” B-anak bertepuk tangan, C- guru atau terapis berkata “bagus”(sebagai imbalan positif). Ketika anak memberi respon yang salah; A-apabila instruksi yang diberikan yaitu “tepuk tangan”, B-anak melambaikan tangannya, maka C- guru atau terapis berkata “Tidak”. Ketika anak tidak memberikan respon terhadap instruksi; A-instruksi yang diberikan yaitu “tepuk tangan” B- anak tidak melakukan apa-apa, maka C- terapis atau guru mengatakan “Lihat” atau “Dengar” (guru memberikan bantuan).[14]

B.     AUTIS

1.      Pengertian Autis

Autis berasal dari bahasa Yunani ,auto yang berarti sendiri.[15] Berkesan hidup dalam dunianya sendiri.Istilah Autis pertama kali diperkenalkan oleh Leo Kanner,seorang psikiater dari Harvard,pada tahun 1943. Autisme merupakan kelainan ang terjadi pada anak yang tidak mengalami perkembangan normal,khusunya dalam hubungan dengan orang lain. Anak autis cenderung menggunakan bahasa lain yang tidak normal serta memiliki perilaku yang compulsive dan retualistik. Artinya anak cenderung melakukan tindakan secara berulang yang kemungkinan besar itu merupakan akibat dari proses perkembangan kecerdasan yang tidak normal.

Frieda Mangunsong mengatakan  dalam bukunya tentang Psikologi dan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus,Autisme meruapakan suatu gejala yang tidak nampak seperti biasanya dimana anak cenderung menarik diri dari lingkungan sosialnya serta mengalami gangguan dalam hal berkomukasi dan juga memiliki keterbatasan dalam bertingkah laku.[16]

Untuk mengetahui apakah anak penyandang autis atau tidak dapat kita lihat lewat gangguan yang dialami yang dikenal dengan istilah Trias Autisme,yang terdiri dari:

1.      Adanya gangguan pada kemampuan interaksi sosial,dimana itu dapat dilihat dengan gejala seperti:

·         Jika berkomunikasi, anak tidak menatap muka lawan bicaranya

·         Lebih suka bermain sendiri dan jika dipanggil anak tidak selalu.

·         Mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan teman ketika bermain.

2.      Anak mengalami gangguan dalam berkomunikasi dan menggunakan bahasa.

3.      Kemampuan berbicaranya lambat.

·         Anak cenderung menggunakan bahasa yang sulit untuk dipahami oleh individu lain.

·         Anak cenderung meniru perkataam orang lainatau dengan kata lain sering membeo (Echolia).

·         Ketika menginginkan sesuatu dengan spontan anak akan menarik tangan seseorang yang berada di dekatnya lalu diarahkan pada suatu benda yang diinginkannya.[17]

2.      Penanganan Guru secara Pedagogik bagi anak Autis

Dalam menghadapi dan menangani anak autis secara pedagogikada beberapa hal yang perlu  diperhatikan oleh seorang guru seperti:

·      Anak autis akan bergantung pada guru.

·      Memiliki pengetahuan dasar tentang masalah yang dialami anak autis

·      Guru harus menjadikan bekerja sama dengan orang tua dalam hal pemberian informasi tentang kondisi anak.

·      Membuat analisis sekaitan dengan hambatanyang dialami oleh anak autis.

·      Guru harus menyadari bahwa perilaku anak yang tidak dapat dijelaskan itu disebabkan karena asosiasi yang tidak logis dari siswa.

·      Ketika anak berperilaku buruk, guru harus segera menanganinya.

·      Sadari bahwa perilaku keras kepala adalah dikerenakan ketidakmampuannya.

·         Menunjukkan sikap peduli terhadap siswa, upayakan bahwa dia merasa aman.

·      Dampingilah dalam kepentingannya dengan hubungan sosial.

·      Banyak bersabar

·      Tingkatkan kemandirian.

·      Perhatikan penggunaan bahasa, hindari sarkasme, sinisme, makna ganda.

·      Jangan menggunakan kata kiasan, atau jelaskan jika ada kata-kata kiasan.

·      Gunakan pendekatan kasih sayang.

·      Buat siswa memahami bahwa Anda akan berbicara dengannya dengan menyebut namanya atau dengan cara lain yang disepakati.

3.      Petunjuk Penanganan Didakti Oleh para Guru

Dalam hal penanganan didakti ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru antara lain:

·        Buat instruksi yang jelas dan beri dukungan.

·        Visualisasikan program harian dan mingguan (olahraga dan prakarya) bila perlu gunakan foto dari mata pelajaran tersebut.

·        Pemberian bahan ajar berkaitan dengan bahan ajar sebelumnya.

·        Ajarkan belajar membaca melalui teknik kata-kata secara global (melalui keseluruhan kata, bukan mengeja).

·        Ajarkan menulis dengan halaman berkotak-kotak untuk anak yang mempunyai masalah menulis.

·        Pertimbangkan apakah tugas yang diberikan bisa dilakukan untuk individual atau untuk kelompok.

·        Beri jeda yang jelas antara satu aktivitas dengan aktivitas yang lain.

·        Beri perintah yang jelas, bisa disertai dengan gambar yang simple.

·        Hindari abstraksi penggunaan waktu, seperti: nanti, segera, belakangan.

4.      Petunjuk untuk pengorganisasian

·         Kelas: perlu adanya gambaran menyeluruh, keteraturan, dan ketenangan.

·         Simpanlah peralatan ditempat yang tepat.

·         Buatlah tempat khusus siswa Autis dalam sekolah.

·         Buatlah program harian yang bisa diprediksinya melalui skema program yang individual.

·         Siapkan saat-saat jam istirahat atau jam-jam bebas.

·         Jika perlu izinkan mereka untuk membawa mainannya dari rumah.

[18]

5.      Peranan Guru dalam Pendidikan Anak Autis

Tenaga pendidik disekolah yang lebih akrab disebut sebagai guru mempunyai kapasitas yang ganda. Pendidik mempunyai kapasitas untuk menolong oraang tua dan juga terapis di dalam mengelola serta melaksakan program kepada anak autis guna untuk mengurangi masalah perilaku, meningkatkaan kemampuan serta perkembangan belajar anak autis khususnya dalamhal menguasai bahasa serta  menolong  anak supaya mampu untuk bersosialisasai serta menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.

      Tujuan  tersebut dapat dicapai secara maksimal lewat  suatu program terapi secara menyeluruh yang sifatnya perorangan, dimana pendidkan serta terapi khusus merupakan elemen yang sangat penting. Tenaga pendidik dan juga pihak yang lainnya harus menyadari bahwa setiap individu memiliki keunikan, sehingga jangan beranggapan bahwa dengan menggunakan satu metode saja itu akan berhasil bagi anak yang lainnya.akan berhasil begitu pun dengan anak autis lainnya. Tenaga pendidik harus memeperhatikan kelemahan dan juga kekuatan setiap anak sedabagi bahan acuan dalam membuat serta melaksanakan progam pendidikan. Tenaga pendidik harus  memberikan latihan secara terstruktur yang dapat memperkecil kesempatan anak untuk melepaskan diri dari teman yang lainnya dan juga tenaga pendidik dengan segera mengambil tindakan apabila anak melakukan kegiatans secara mandiri. bertindak bila anak melakukan aktivitas sendiri (mandiri).

                        Dalam menangani anak autis yang agresif, peranan yang perlu dilakukan oleh guru adalah mengajari anak untuk  berkomunikasi bukan kata-kata dan tingkatan keterampilan sosial anak melalui peragaan. Guru harus menciptakan ligkungan sekolah yang aman, teratur dan responsive terhadap anak autis. Guru harus berusaha untuk membangkitkan rasa percaya diri pada anak.[19] Selain itu, guru juga perlu mengembangkan berbagai keterampilan sebagai pengganti agresivitas, seperti keterampilan sosial, keterampilan berkomunikasi, kerjasama, menggunakan waktu senggang, dan keterampilan berekreasi (Widyawati 2002).[20]

C.     Prinsip Pendidikan dan Pengajaran

Team work sekolah khusus anak Autis dalam artikelnya tentang Dasar Pendidikan dan Pengajaran anak Autis mengatakan bahwa pendidikan dan pengajaran anak autis secara umum dilakukan berdasarkan 4 prinsip antara lain:

1.    Terstruktur

Pada prinsip ini, pendidikan dan pengajaran anak autis haruslah terstruktur artinya bahan ajar atau materi yang diberikan itu dimulai dari materi yang paling mudah dan dapat dilakukan oleh anak. Setelah anak sudah mampu menguasai selanjutnya diberikan lagi materi yang setingkat diatasnya tetapi bahan ajarnya masih serangkain dari bahan ajar sebelumnya.

2.    Terpola

Kebiasaan dari anak autis itu terbentuk dari rutinitas yang terpola dan terjadwal baik di sekolah maupun di rumah mulai dari ketika anak bangun hingga tidur kembali. Dengan demikian pendidikannyajuga harus dikondisikan atau dibiasakan dengan pola yang teratur.

3.    Terprogram

Pada prinsip ini pendidikan dan pengajaran harus deprogram sedemikian rupa sehingga dapat memberi arahan yang tepat dalam mencapai tujuan secara optimal serta memudahkan dalam mengevaluasi. Prinsip ini memiliki kaitan yang erat dengan prinsip dasar yang sebelumnya karena dalam membuat program pembelajaran itu harus didasarkan pada kemampuan anak.

4.    Konsisten

Dalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran perilaku bagi anak autis prinsip yang harus ada adalah sikap konsisten. guru dalam memberikan respon terhadap apa yang dilakukan anak itu harus sesuai dengan apa yang dilakukan anak. Apabila anak berperilaku positif maka dengan segera guru memberikan  respon yang positif kepada anak sebagai bentuk penghargaan. 

D.    Proses Pendidikan dan Pengajaran Bagi Anak Autis

Pendidikan dan Pengajaran bagi Anak autis khususnya dalam proses penyusunan program pembelajaran itu memerlukan pengamatan dengan saksama serta mencakup beberapa tahun sehingga penanganannya dilakukan dengan tepat. Ada lima tahap yang harus dilakukan antara lain:

1.      Diagnosa

Sebelum anak masuk sekolah hal yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah diagnos. Pemeriksaan ini dilakukan secara menyeluruh oleh satu team yang terdiri dari dokter anak, psikolog dan juga psikiater. Dari proses diagnose ini akan diketahui apakah anak benar-benar tergolong penyandang autis atau tidak.

2.      Observasi

Observasi dilakukan untuk memperoleh data yang akurat sekaitan dengan kemampuan, ketidakmampuan serta kebiasaan dan juga kesukaan dari anak autis. Pada tahap ini ada beberapa hal yang perlu untuk diobservasi seperti kemampuan anak dalam menolong diri sendiri(makan dan minum), kemampuan bersosialisasi dan juga dalam berkomunikasi. Dari hasil observasi inilah kemudian guru dapat menentukan langkah atau tindakan yang dapat deprogram serta dilakukan dalam proses pembelajaran.

3.      Penyusunan dan Pelaksanaan Program

Dalam penyusunan dan pelaksanaan program itu berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan, sehingga pembelajaran yang diterima anak itu kadang berbeda atau dengan kata lain pembeljarannya sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

 

4.      Evaluasi

Setelah program pembelajaran telah dilaksanakan dalam jangka waktu yang telah ditentukan, maka untuk mengetahui apakah proses pembelajaran yang dilakukan itu berhasil dan telah mencapai tujuan secara optimal maka perlu untuk melakukan evaluasi. Sebagai contoh program pembelajarannya ialah mengajar anak untuk menulis maka untuk mengevaluasi apakah anak sudah mampu untuk menulis itu diberikan latihan secara mandiri tanpa didampingi lagi leh guru dalam menulis.

5.      Follow Up

Berdasrkan hasil evalusai maka guru dapat menentukan program atau langkah selanjutnya yang dapat dilakukan. Apabila program yang telah diberikan telah dikuasai oleh anak maka dapat dilanjutkan pada program kemampuan berikutnya. Apabila program yang telah diajarkan belum dikuasai anak maka perlu untuk menindak lanjuti kembali kira-kira apa yang menjadi penyebabnya, apakah strategi yang diimplementasikan tidak tepat ataukah kemampuan anak yang tidak memungkinkan.  [21]

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A.    Metode  penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif, dimana dalam penelitian ini informasi yang diperoleh tidak melalui prosdur statistic atau dalam bentuk diagram yang memiliki tujuan guna untuk mengungkapkan gejala holistic sesuati dengan konteks lewat pengumpulan data yang berasal dari latar belakang alami dengan memanfaatkan diri penulis sebagai pemegang kunci instrument. Dengan demikian penulis akan memperoleh data dalam bentuk deskriptif yang pada umumnya berupakata-kata, gambar atau rekaman mengenai strategi guru dalam mendidik anak penyandang autis

B.     Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini data akan diperoleh oleh peneliti dengan menggunakan tiga teknik pengumpulan data yaitu:

1.      Observasi

Observasi merupakan salah sau teknik pengumpulan data yang praktis digunakan untuk mengetahui tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam situasi tertentu, kebiasaan setiap hari serta hubungan dengan sesame dalam kehidupan setiap hari. Di dalam merampungkan data penelitian kualitatif, teknik observasi merupakan  salah satu cara yang dipilih guna untuk menyaksikan secara langsung bahkan mendengar serta merasakan informasi yang ada.

2.      Wawancara

Wawancara adalah percakapan secara langsung antara penulis dengan narasumber dalam rangka memperoleh sebuah data. Dalam melakukan wawancara tentu ada dua orang pihak yang dilibatkan yaitu penanya atau individu yang melakukan wawancara dan responden atau individu yang memberikan informasi atau jawaban atas pertanyaan yang diberikan oleh penanya

3.      Dokumentasi

Dokumentasi berarti akumuliasi, penentuan, penyusunan serta pencadangan bukti di dalam bidang pengetahuan. Sehingga dalam penelitian ini data yang didapatkan dapat diperoleh dari catatan dokumen yang ada, baik catatan secara resmi maupun dokumen yang telah ada sejak masa lampau. Dengan demikian dokumen yang ada pun dapat dijadikan sebagai data untuk melengkapi data yang telah diperoleh oleh peneliti sebelumnya melalui teknik observasi dan juga wawancara.[22]

C.    Teknik Analisis Data

Tahap selanjutnya yang akan dilakukan peneliti setelah mengumpulkan data, yaitu menganalisis data. Menurut Miles dan Huberman (1984) mengatakan bahwa langkah atau tindakan yang dilakukan dalam melakukan analisis data itu harus dilaksakan secara interaktif dan berkesimbungan hingga tuntas serta data yang diperoleh sudah jenuh. Menganalisis data kualitatif itu dilakukan melalui tiga tahap anatara lain:

1.      Reduksi Data. Pada tahap ini,peneliti memilih serta merangkum pokok-pokok penting untuk kemudian menemukan suatu tema dan polanya. Reduksi data itu dilakukan sejak pengumpulan data dimana hal itu dapat dilakukan dengan cara membuat ringkasan,menelusuri tema hinga memverfikasi data. Adapun data yang direduksi diantaranya data mengenai strategi pembelajaran.

2.      Penyajian Data merupakan deskripsi dari informasi yang telah didapatkan yang memungkinkan adanya penarikan kesimpulan. Dalam menyajikan data kualitatif itu dapat dilakukan dalam bentuk teks narasi yang telah dirancang sedemikian rupa guna untuk menggabungkan informasi yang telah tersusun dlam bentuk yang padu serta mudah dipahami.

Dalam penyajian data ini penulis akan menyusun data yang relevan dengan stretagi pembelajaran bagi anak austi, sehingga informasi yangtelah  didapatkan itu kemudian disimpulkan sehingga memiliki makna tertentu  guna untuk menjawab pokok permasalahan dalam penelitian ini.

3.      Penarikan Kesimpulan ini merupakan tahap yang terakhir, tahap dimana penulis menarik sebuah kesimpulan dan juga melakukan verifikasi baik itu dari segi kebenaran sampai pada makna. Penjelasan  yang telah dirumuskan itu harus diuji kebenarannya, serta kecocokannya. Pada penelitian ini peneliti akan sampai pada penarikan kesimpulan mengenai strategi pembelajaran yang diimplementasikan bagi anak penyandang autis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS

A.    Pemaparan Hasil Penelitian

Berdasarkan masalah yang dikaji dalam penelitian ini yaitu strategi pembelajaran terhadap anak autis penulis melakukan wawancara kepada 3 orang tenaga pendidik untuk mendapatkan informasi. Berikut adalah hasil wawancara penulis antara lain:

1.      Apa yang harus dilakukan terlebih dahulu sebelum mengajar anak autis?

Informan mengatakan bahwa  anak autis adalah salah satu anak berkebutuhan khusus,sehingga perlu untuk mencari tahu seperti apa anak autis itu sendiri dan apa saja kebutuhan mereka serta apa yang dapat mereka lakukan.[23] Ketika kebutuhan anak sudah diketahui maka yang dilakukan selanjutnya adalah menuyusun program setelah itu pelaksanaan program dan yang terakhir evaluasi. Setelah itu kita dapat menentukan  bagaimana anak itu dapat diajar. Beberapa anak autis juga memiliki bakat khusus yang bisa dipromosikan dengan baik. Hal lain yang juga penting untuk dimiliki oleh seorang guru ialah kesabaran.[24]

 

 

 

2.      Apa saja yang diajarkan kepada anak autis?

Menurut mereka hal yang diajarkan kepada anak autis itu sesuai dengan kebutuhan mereka masing. Namun hal yang paling pertama ialah melatih anak untuk bisa focus atau memberi perhatian paling tidak 2 menit. Mereka mengatakan kita melatih anak paling tidak bisa menatap kita pada saat berbicara dengan mereka. anak autis diajari hal-hal yang paling mandasar terlebih dahulu, seperti berbicara, memakai baju sendiri. [25]

3.      Bagaimana strategi yang digunakan dalam mengajar anak autis?

Menurut mereka salah satu strategi dalam mengajar anak autis adalah dengan menyediakan satu ruangan khusus bagi anak autis, tetapi dalam ruangan tersebut juga tersedia suatu tempat  yangdirancang sedemikian rupa sehingga anak tidak bisa untuk lari kesana kemari pada saat belajar. Bukan hanya itu salah satu strategi yang mereka juga gunakan dengan mengajar satu-satu anak autis yang ada, atau dengan kata lain setiap hari hanya satu anak autis yang datang ke RBM untuk belajar.  Informan juga mengatakan bahwa ketika kita hendak mengajak anak untuk melakukan sesuatu misalnya waktunya untuk makan, maka kita menunjukkan gambar orang yang sedang makan. [26]

4.      Apakah ada kesulitan yang dialami dalam mengajar anak autis?

Informan mengatakan bahwa dalam mengajar anak autis tentu ada saja kesulitan yang dialami. Kesulitan yang pernah dialami itu ketika yang dihadapi adalah anak yang boleh dikata gangguan yang dialaminya sudah tergolong berat, karena anak tidak bisa duduk dengan tenang untuk belajar, anak lebih suka lari kesana kemari bahkan pergi memanjat tebing. Guru pun menagatakan bahwa mereka kesulitan dalam mengajar anak tersebut bahkan kami pun sering kewalahan karna kami harus kejar-kejaran dengan anak.  Bukan hanya itu kami juga mengalami kesulitan dalam mengajar anak oleh karena fasilitas yang belum memadai. [27]

5.      ,Bagaiamana cara mengatasi kesulitan yang dialami pada saat mengajar anak autis?

Informan mengatakan bahwa salah satu cara yang dapat dilakukan dalam mengatasi kesulitan yaitu berusaha untuk tenang dan juga mencoba untuk memahami dunia anak autisme. Hal lain yang juga dapat dilakukan khususnya ketika anak tidak bisa memberikan perhatian untuk belajar yaitu dengan membawa anak pada suatu tempat dimana tempat itu didesain sedemikian rupa sehingga anak tidak bisa kesana kemari berlari. [28]Namun kadang juga ketika kami sudah kewalahan dalam menagajar anak oleh karena anak tidak bisa lagi duduk tenang untuk belajar dan berlari kesana kemari maka kami pun membiarkannya saja tanpa harus mengikuti anak dan mengajak anak untuk belajar kembali. [29]

Menurut pengamatan penulis memang benar bahwa cara yang guru lakukan dalam mengatasi kesulitan itu dengan bersabar, buktinya ketika anak tidak lagi duduk tenang untuk belajar guru berusaha untuk membawa anak pada tempat yang membatasi ruang gerak nak tersebut sehingga anak kembali belajar.

B.     Analisis

Dalam proses belajar mengajar strategi pembelajaran memang sangatlah penting untuk dimiliki oleh seorang guru karena hal tersebut yang akan menjadi pedoman bagi guru untuk bertindak di dalam proses pembejalaran. Dengan adanya strategi pembelajaran maka guru dan peserta didik akan mecapai tujuan yang diharapkan secara optimal.apabila guru memiliki kreatifitas dan stretagi yang tepat dalam proses mengajar maak dapat dipastikan guru tidak akan mengalami kesulitan ketika mengajar.  Hal demikian jelas dikatan oleh Johnson  bahwa apabila guru atau tenaga pendidik memiliki  kreatifitas dan strategi yang tepat dalam mengajar maka dapat dipastikan guru tersebut tidak anak mendapatkan kesulitan dalam mengajar serta mampu mengajar setiap anak dari berbagai latar belakang. Beberapa ahli juga mengatakan seperti yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya bahwa strategi memang sangatlah penting karena dengan adanya strategi pembelajaran yang tepat maka tujuan akan tercapai secara optimal. Strategi pembelajaran sangat penting bagi seorang guru karena itu yang akan menjadi pedoman serta panduan dalam bertindak sehingga proses pembelajaran dapat terlaksana secara sistematis.

Anak autis merupakan salah satu anak berkebutuhan khusus yang kurang mampu dalam berkomunikasi dan juga bersosialisasi dengan orang sekitarnya. Ketidakmampuan anak tersebut dapat tertolong lewat dunia pendidikan, namun dalam mengajar anak autis itu membutuhkan strategi yang tepat sama halnya ketika mengajar anak pada umumnya itu juga membutuhkan strategi. Dalam mengajar anak autis tentu memiliki strategi atau cara khusus dan itu dapat ditentukan melalui beberapa proses. Sebelum mengajar anak autis hal utama yang dilakukan yaitu memastikan terlebih dahulu bahwa anak tersebut autis. Ketika anak tersebut terbukti autis maka tenaga pendidik melakukan observasi terhadap anak selama kurang lebih  1-3 bulan. Langkah selanjutnya yang harus dilakukan oleh guru ialah menyusun program pembelajaran yang tepat bagi anak sesuai dengan kebutuhannya. Setelah program telah tersusun maka proses pembelajaran pun dilaksanakan hingga pada tahap evaluasi. Hal ini jelas dikatakan oleh Team Work Sekolah Khusus Autistik yang telah dipaparkan dalam bab sebelumnya bahwa dalam menyusun program pembelajaran ada beberapa tahap yang harus dilakukan sehingga penganganannya itu tepat. Tahap tersebut dimulai tahap diagnosa, observasi, penyusunan serta pelaksanaan program dan yang terakhir adalah evaluasi. Diagnosa dilakukan sebelum anak masuk di sekolah ini dilakukan untuk memastikan apakah anak benar-benar autis atau tidak dan itu dilakukan oleh suatu tim yang terdiri dari dokter anak, psikolog,dan psikiater (anak). Hal ini dapat dilakukan selama kurang lebih dua minggu. Selanjtnya tahap observasi, ini dilakukan untuk memperoleh data apa kemampuan serta ketidakmampuan anak dan juga kesukaan serta kebiasaan anak. Ketika guru telah mengetahui kemampuan, kebiasaan dan kesukaan anak maka guru pun akan menyusun serta melaksanakan program pembelajaran yang tepat sesuai dengan kebutuhan anak. Pada tahap terakhir guru akan mengevaluasi apakah tujuan tercapai secara optimal atau tidak.

            Dalam menangani anak autis ada bebrapa hal yang perlu untuk diperhatikan oleh seorang guru mulai dari penanganan secara pedagogik, penanganan didakti hingga pengorganisasian. Dalam penaganan pedagogic salah satu hal yang perlu untuk dimiliki oleh seorang guru ialah kesabaran, dalam hal penganganan didakti salah satu hal yang penting untuk dilakukan oleh guru  yaitu dengan mengajar anak untuk menulis (khusus bagi yang memiliki kemampuan untuk menulis), dan juga dalam hal memberikan perintah harus jelas dan itu isa disertai dengan gambar. Sedangkan dalam penanganan pengorganisasian perlu untuk menyediakan tempat khusus bagi anak autis. Hal demikian jelas dikatakan oleh wilem de jong dalam bukunya yang berjudul “” bahwa dalam penanganan didkti hal yang sangat penting untuk diperhatikan oleh guru adalah kesabaran, daalam hal penaganan didakti guru mengaajr anak untuk menulis serta memberikan perintah yang jelas bagi anak disertai dengan gambar. Serta dalam hal pengorganisasian perlu untuk menyediakan ruangan khusus bagi anak autis dan itu didesain sedemikian rupa tanpa merubah posisi benda yang ada dalam ruangan sewaktu-waktu.

                                   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan

Mengajar anak autis memang tidaklah mudah dan tentu ada strategi khusus yang digunakan dalam mengajar mereka. Tanpa adanya strategi yang tepat maka akan banyak kesulitan yang akan dialami dalam proses belajar mengajar  serta tujuan tidak akan tercapai secara optimal.Dari pemaparan hasil penelitian pada bab IV maka dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran yang diterapkan  bagi anak autris dilakukan dengana lima tahap dasar yang dilakukan  yaitu diagnosa, observasi, penyusunan dan pelaksanaan program, evaluasi, dan follow up. Sehingga strategi yang diterapkan dalam mengajar anak autis itu dengan menyediakan  ruangan khusus bagi anak autis serta mengajar anak sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Dengan demikian strategi menjadi sentral atau pusat dalam proses pembelajaran.

B.     Implikasi

Setelah mengetahui mengenai strategi pembelajaran bagi anak autis maka orang tua maupun guru yang memiliki perserta didik anak autis harus berupaya agar dalam proses pembelajaran yang dilakukan menerapkan strategi pembelajaran demikian agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan tujuan utama dari pembelajaran tersebut dapat tercapai

C.    Rekomendasi

1.      Bagi Sekolah

Sekolah hendaknya konsisten dalam melaksanakan program yang telah dibuat khususnya dalam pelaksanaan pelatihan bagi tenaga pendidik sehingga tenaga pendidik yang ada pun semakin diperlengkapi dengan pengetahuan dalam mendidik anak autis, secara khusus dalam proses pembelajaran. Sekolah juga perlu membentuk tim untuk pengkaderan tenaga pendidik. Bukan hanya itu sekolah juga perlu untuk membuat tim khusus yang mampu menangani anak sebelum masuk sekolah, dimana tim itu terdiri dari dokter anak dan juga psikolog.

2.      Bagi Orang Tua

Orang tua harus memberikan perhatian kepada anaknya, dengan cara mejalin komunikasi yang baik dengan tenaga pendidik yang ada  sehingga apa yang telah diupayakan oleh tenaga pendidik dalam menolong anak itu dapat tercapai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] UU Sisdiknas No.20 Tahun 2003,Tentang Sistem Pendidikan Nasional,Pasal 5 ayat 1 dan 2,hal.10.

[2] Joko Yuwono, Memahami Anak Autis (Bandung: Alfabeta, 2012), hal. 26

[3]Hisyam Zaini dkk, Strategi Pembelajaran Aktif,  (Yogyakarta:Pustaka Insani Madani,2008),hal.13.

[4] Louarne Johnson,Pengajaran yang Kreatif, (Indeks,2008),hal.45

[5]  Hisyam Zaini dkk, strategi Pembellajaran Aktif,(Yogyakarta:Pustaka Insani Madani,2008),hal.13.

[6]Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, Cet.(Jakarta:Rineka Cipta,2010), hal.5.

[7]Wina Sanjaya. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.(Jakarta: Prenada.2010),hal.60.

[8]Isnu Hidayat,50 Strategi Pembelajaran Populer,(Yogyakarta:DIVA Press,2019),32

 

[9] Henry Guntur Tarigan, Strategi Pengajaran dan Pembelajaran,(Bandung:Angkasa,1993) hal.2.

[10] Syaiful Bahri Djamarah Dkk,Strategi Belajar Mengajar,(Jakarta: Pt: Rineka Cipta,2010) hal.5-6.

[11] Made Wena,Strategi pembelajaran Inovatif Kontemporer, (Jakarta: PT Bumi Aksara,2013)hal.5-6

Isnu Hidayat,50 Strategi Pembelajaran Populer,(Yogyakarta:DIVA Press,2019)       hal.32-36

 

[13] Anjaly Sastry dan Blaise Aguirre,MD, Parenting Anak dengan Autisme ( :Pustaka Pelajar,2014), hal. 180-183.

[14]Mirza Maulana, Anak Autis (Yogyakarta: Ar-Ruzz media,2007), hal.54.

[15] Prof. Dr.F.G.Winarmo,Autisme dan Peran Pangan,(Jakarta:Gramedia Pustaka Utama,2013),hal.1

[16]Dewi Pandji dan Winda Wardhani, Sudahkah Kita Ramah:Anak Special Needs,(Jakarta: PT Elex Media Komputindo,2013),12

[17] Jenny Gichara, Mendidik Anak Sepenuh Jiwa,(Jakarta: PT Elex Media KOmputindo,2013),hlm.151-152

[18]Wilem de Jong, Pertolongan Pertama Pada Siswa Berkebutuhan Khusus,(Jakarta:Prenadamedia Group,2008),203

 

[19]Dr. E.G. Homrighausen dan Dr. I.H Enklaar, Pendidikan Agama Kristen, ( Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia,2013)

[20]Rafael Lisinus dan Pastiria Sembiring, Pembinaan Anak Berkebutuhan Khusus, ( Jakarta: Yayasan Kita Menulis,2020),199

 

[21] Team work Sekolah Khusus Autis, Dasar Pendidikan dan Pengajaran Bagi Anak Autis.

Yogyakarta

[22]MAMIK, Metodologi Kualitatif,(Jakarta:Zifatama Publisher,2015),hlm.152-153

 

[23] Wawancara dengan Pina (volunterr), tanggal 13 Juli 2020

[24]Wawancara dengan M.H  (tenaga pendidik RBM Tangmentoe) ,tanggal 25 Juli 2020

[25] Wawancara dengan M.H dan M.M (tenaga pendidik RBM TAngmentoe), tanggal 26

     Juli 2020

[26] Wawancara dengan M.H (tenaga pendidik RBM Tangmentoe), tanggal 28 Juli 2020

[27] Wawancara dengan P.K (tenaga pendidik di RBM Tangmentoe), tanggal 14 Juli 2020

[28] Wawancara dengan M.M (tenaga pendidik RBM Tangmentoe) tanggal 2 Agustus 2020

[29] Wawancara dengan M.H (tenaga pendidik di RBM Tangmentoe), tanggal 3 agustus 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Strategi Pembelajaran Terhadap Anak Penyandang Autis

                  STRATEGI PEMBELAJARAN TERHADAP ANAK PENYANDANG AUTIS                     BAB I ...